Postingan Terunggul Hari Ini

4 Pilihan Dalam Berkehidupan

4 pilihan dalam berkehidupan : Ada 4 Pilihan dalam berkehidupan, kamu bisa pilih salah satunya, atau lebih dari itu : 1. Dengan kedudukan Ja...

Pengaruh Revolusi Industri terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia


Pengaruh Revolusi Industri terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia – Hai sahabat, Kali ini kita akan membahas tentang Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi dan Politik Indonesia. Yuk, langsung dibaca :

Pengaruh Revolusi Industri terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia
Pengaruh Revolusi Industri terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia. Sumber Foto : Tribunnews.com



Revolusi Industri yang terjadi di Eropa dan di Inggris khususnya membawa dampak di bidang sosial, ekonomi dan politik. Di bidang sosial munculnya golongan buruh yang hidup menderita dan berusaha berjuang untuk memperbaik nasib. Gerakan kaum buruh inilah yang kemudian melahirkan gerakan sosialis yang menjadi lawan dari kapitalis. Bahkan, kaum buruh akhirnya bersatu dalam suatu wadah organisasi, yakni partai Buruh. Di bidang ekonomi, perdagangan makin berkembang. Perdagangan lokal berubah menjadi perdagangan regional dan internasional. Sebaliknya, di bidang politik, Revolusi Industri melahirkan imperliasme modern.

1. Perubahan di Bidang Politik

Sejak VOC dibubarkan pada tahun 1799, Indonesia diserahkan kembali kepada pemerintahan Kerajaan Belanda. Pindahnya kekuasaan pemerintahan dari VOC ke tangan pemerintah Belanda tidak berarti dengan sendirinya membawa perbaikan. Kemerosotan moral di kalakangan para penguasa dan penderitaan penduduk jajahan tidak berubah. Usaha perbaikan bagi penduduk tanah jajahan tidak dapat dilaksanakan karena Negeri Belanda sendiri terseret dalam perang dengan Negara-negara besar tetangganya. Hal ini terjadi karena Negeri Belanda pada waktu itu diperintah oleh pemerintah boneka dari Kemaharajaan Prancis di bawah pimpinan Napoleon. Dalam situasi yang demikian, Inggris dapat memperluas daerah kekuasaannya dengan merebut jajahan Belanda, Indonesia.

a. Hindia Belanda Di Bawah Daendels (1808-1811)

Dalam usaha mengadakan pembaharuan pemerintahan di tanah jajahan, di Negeri Belanda ada dua golongan yang mengusulkannya.
1. Golongan Konservatif dengan tokohnya neneberg yang menginginkan untuk mempertahankan sistem politik dan ekonomi seperti yang dilakukan oleh VOC.

2. Golongann liberal dengan tokohnya Dirk Van Hogendorp yang menghendaki agar pemerinta Hindia Belanda menjalankan sistem pemerintahan langsung dan menggunakan sistem pajak.S iste penyerahan paksa yang dilakukan oleh VOC agar digantikan dengan sistem penyerahan pajak.

Di satu pihak pemerintah condong kepada pemikiran kaum Konservatif karena kebijaksanaanya akan mendatangkan keuntungan yang cepat dan mudah dilaksanakan. Di Pihak lain, pemerintah jga ingin menjalankan pembaharuan yang dikemukakan oleh kaum liberal. Gagasan pembahruan pemerintahan kolonial dimulai semenjak pemerintahan Daendels.

Sebagai gubernur jenderal pemerintahan Belanda di indonesia, Daendels banyak melakukan langkah-langkah baru dalam pemerintahan. Daendels mengadakan perombakan pemerintahan secara radikal, yakni meletakkan dasar-dasar pemerintahan menurut sistem Barat. Langkah-langkah tersebut, antara lain :

1. Pemerintahan kolonial dipusatkan di Batavia dan berada di tangan gubernur jenderal
2. Pulau jawa dibagi menjadi Sembilan Prefectur. Hal ini untuk mempermudah adminsitrasi pemerintahan.
3. Para Bupati dijadikan pegawai pemerintah. Belanda di bawh pemerintahn prefect
4. Mengadakan pemberantasan korupsi dan penyelewengan dalam pungutan (contingenten) dan kerja paksa.
5. Kasultanan Banten dan Cirebon dijadikan daerah pemerintah Belanda yang disebut pemerinta gubernemen.
6. Berbagai upacara di Istana Surakarta dan Yogyakarta disederhanakan.

Pada awal pemerintahannya, Daendels menentang sistem kerja paksa dan merombak sistem feodal. Akan tetap, tugas untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris menyebabkan Daendels terpaksa harus mengadakan penyerahan kerja paksa secara besar-besaran (dengan menggunakan pengaru penguasa pribumi) untuk membangun jalan-jalan dan benteng-benteng pertahanan. Demikian juga karena kas Negara kosong menyebabkan juga ditempuh cara-cara lama untuk mengisi kas Negara. Dengan demikian, kehidupan rakyat pribumi tetap menderita.
Ketika akhrinya inggris menyerbu pulau Jawa, Daendels sudah dipanggil kembali ke Eropa. Penggantinya tidak mampu menahan serangan Inggris dan terpaksa menyerah. Dengan demikian, Indonesia berada di bawah kekuasaan Inggris.

b. Masa Pemerintahan Raffles (1811-1816)

Setelah indonesia (Khususnya pulau jawa) jatuh ke tangan inggris, oleh pemerintah inggris dijadikan bagian dari jajahannya di India. Gubernur Jenderal East India Company (EIC), Lod Minto yang berkedudukan di Calcuta (India), kemudian mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur (Wakil gubernur) untuk indonesia (jawa).

Raffles didampingi oleh suatu bdan penasihat yang disebut Advisory Coucil. Tugas yang utama adalah mengatur pemerintahan dan meningkatkan perdagangan serta keuangan . Sebagai seorang yang beralihan liberal, Raffles menginginkan adanya perubahan-perubaahan dalam pemerintahan di Indonesia (Jawa). Selain di bidang pemerintahan, ia juga dilakukan perubahan di bidang ekonomi. Ia hendak melaksanakan kebijaksanaan ekonomi yang didasarkan kepada dasar-dasar kebebasan sesuai dengan ajaran liberal. Langkah-langkah yang diambil oleh Raffles dalam bidang pemerintahan dan ekonomi adalah sebagai berikut :

- Mengadakan penggantian sistem pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa pemerintahan kolonial ala Barat. Untuk memudahkan sistem administrasi pemerintahan, Pulau Jawa dibagi menjadi delapan belas karesidenan.
- Para bupati dijadikan pegawai pemerintah sehingga mereka mendapat gaji dan bukan lagi memiliki tanah dengan segala hasilnya. Dengan demikian, mereka bukan lagi sebagai penguasa daerah, melainkan sebagai pegawai yang menjalankan tugas atas perintah dari atasannya.
- Menghapus segala bentuk penyerahan wajib dan kerja paksa atau rodi. Rakyat diberi kebebasan untuk menanam tanaman yang menguntungkan.
- Raffles menganggap bahwa pemerintah kolonial adalah pemilik semua tanah yang ada di daerah tanah jajahan Oleh karena itu, Raffles mengangap para penggarap sawah adalah penyewa tanah pemerintah. Oleh karena itu, para petani mempunyai kewajiban membayar sewa tanah kepada pemerintah. Sewa tanah atau landrente ini harus diserahkan sebagai suatu pajak atas pemakaian tanah pemerintah oleh penduduk.

Sistem sewa tanah semacam itu oleh pemerintah Inggris dijadikan pegagan dalam menjalankan kebijaksanaan ekonominya selama berkuasa di Indonesia. Sistem ini kemudian juga diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda setelah Indonesia disrahkan kembali kepada Belanda.

Pengaruh Revolusi Industri terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia

2. Perubahan di Bidang Sosial Ekonomi

Sejak awal abad ke-19, pemerintah Belanda mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membiayai peperangan baik di Negeri Belanda sendiri (pemberontakan rakyat Belgia), maupun di Indonesia (terutama perlawanan diponegoro) sehingga Negeri Belanda harus menanggung hutang yang sangat besar.

Untuk menyelamatkan Negeri Belanda dari bahaya kebangkrutan maka Johane Van Den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok menggali dana semaksimal mungkin untuk mengisi kekosan kas Negara, membayar hutang, dan membiayai perang. Untuk melaksanakan tugas berat itu, van den Bosch memusatkan kebijaksanaannya pada peningkatan produksi tanaman ekspor. Untuk itu, yang perlu dilakukan ialah mengerahkan tenaga rakyat tanah jajahan untuk melakukan penanaman tanaman yang hasil-hasilnya dapat laku di pasaran dunia dan dilakukan dengan sistem paksa. Setelah tiba di Indonesia (1830) van den Bosch menyusun program kerja sebagai berikut :

- Sistem Sewa tanah dengan uang harus dihapus karena pemasukannya tidak banyak dan pelaksanaanya sulit.
- Sistem tanam bebas harus diganti dengan tanam wajib dengan jenis-jenis tanaman yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
- Pajak atas tanah harus dibayar dengan penyerahan sebagian dari hasil tanamannya kepada pemerintah belanda.

Apa yang dilakukan oleh Van Den Bosch itulah yang kemudian dikenal dengan nama sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Sistem tanam paksa yang diajukan oleh van den Bosch pada dasarnya merupakan gabungan dari sistem tanam wajib (VOC) dan sistem pajak tanah (Raffles).

Pelaksanaan sistem tanam paksa banyak menyimpang dari aturan pokoknya dan cenderung untuk mengadakan eksploitasi agraris semaksimal mungkin. Oleh karena itu, sistem tanam paksa menimbulkan akibat sebagai berikut :

a. Bagi Indonesia (Khususnya jawa)

1. Sawah Ladang menjadi terbengkalai karena diwajibkan kerja rodi yang berkepanjangan sehingga penghasilan menurun drastis.
2. Beban rakyat semakin berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panenenya, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, dan menanggung resiko akibat gagal panen.
3. AKibat bermacam-macam beban menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan.
4. Timbulnya bahaya kemiskinan yang makin berat.
5. Timbulnya bahaya kelaparan dan wabah penyakit dimana-mana sehingga angka kematian meningkat drastic. Bahaya kelaparan menimbulkan korban jiwa yang sangat mengerikan di daerah Cirebon (1843), Demak (1849), dan Grobogan (1850). Kejadian ini mengakibatkan jumlah penduduk menurun drastic. Penyakit busung lapar (hongorodim) juga berkembang dimana-mana.

b. Bagi Belanda

Apabila sistem tanam paksa telah menimbulkan malapetaka bagi bangsa indonesia, sebaliknya bagi bangsa Belanda berdampak sebgai berikut :
1. Mendatangkan Keuntungan dan kemakmuran rakyat Beladna.
2. Hutang-hutang Belanda dapat terlunasi.
3. Penerimaan Pendapatan melebihi anggaran belanja.
4. Kas Negeri Belanda yang semula kosong, dapat terpenuhi.
5. Berhasil membangun Amsterdam menjadi kota pusat perdagangan dunia.
6. Perdagangan berkembang pesat.

Sistem tanam paksa yang mengakibatkan kemelaratan bagi bangsa Indonesia, khususnya jawa, menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, seperti golongan pengusaha, Baron VAN Hoevel, dan Edward Douwes Dekker. Akibat adanya reaksi tersebut, pemerintah Belanda secara berangsur-angsur menghapuskan sistem tanam paksa.

Sesudah tahun 1850, kaum Liberal memperoleh kemenangan Politik di Negeri Belanda. Merek juga ingin menerapkan asa-asas Liberalisme di tanah jajahan.D alam hal ini kaum liberal berpendapat bahwa pemerintah semestinya tidak ikut campur tangan dalam maslah ekonomi, tugas ekonomi haruslah diserahkan kepada orang-orag swasta, dan agar kaum swasta dapat menjalankan tugasnya maka harus diberi kebebasan berusaha.

Sesuai dengan tuntutan kaum Liberal maka pemerintah kolonial segera memberikan peluang kepada usaha dan modal swasata untu menanamkan modal mereka dalam berbagai usaha di Indonesia, terutama perkebunan-perkebunan di Jawa dan di Luar Jawa. Selama periode tahun 1870-1900 Indonesia terbuka bagi modal swasta Barat. Oleh karena itu masa ini sering disebut zaman Liberal. Selaa masa ini kaum Swasta Barat membuka perkebunan-perkeubuan seperti, kopi, teh, gula dan kina yang cukup besar di jawa dan Sumatera timur.

Selama zaman Liberal (1870-1900), usaha-usaha perkebunan swasta Barat mengalami kemajuan pesat dan mendatangkan keuntungan yang besar bagi pengusaha. Kekayaan alam indonesia mengalir ke Negeri Belanda. Akan tetapi, bagi penduduk pribumi, khususnya di Jawa telah membawa kemerosotan kehidupan dan kemunduran tingkat kesejahteraan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti berikut :

1. Adanya pertumbuhan penduduk yang meningkat pada abad ke-19, sementara itu jumlah perduksi pertanian menurun.
2. Adanya sistem tanam paksa dan kerja rodi yang banyak menimbulkan penyelewengan dan penyalahgunaan dari pihak pengusaha sehingga membawa korban bagi penduduk.
3. Dalam mengurusi pemerintahan di daerah luar jawa, pemerintah Belanda mengerahkan beban keuangan dari daerah Jawa sehingga secara tidak langsung jawa harus menanggung beban keuangan.
4. Adanya sistem perpajakan yang sangat memberatkan penduduk.
5. Adanya krisis perkebunan pada tahun 1885 yang mengakibatkan perusahaan-perusahaan mengadakan penghematan,Seperti menekan uang sewa tanah dan upah kerja baik di pabrik maupun perkebunan.

Pada akhir abad ke-19 muncullah kritik-kritik tajam yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda dan praktrik Liberalisme yang gagal memperbaiki nasib kehidupan rakyat Indonesia. Para pengkritik itu menganjurkan untuk memperbaki rakyat Indonesia. Kebijaksanaan ini didasarkan atas anuran Mr. C. Th. Van Deventer yang menuliskan buah pikirannya dalam majalah De Gids (Perintis/Pelopor) dengan judul Een Ereschuld (Berhutang budi) sehingga dikenal politik etis atau politik Balas budi. Gagasan Van Deventer terkenal dengan nama Trilogi Van Deventer.

Demikianlah artikel tentang Pengaruh Revolusi Industri terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia. Semoga bermanfaat.

Silahkan Masukkan Email anda Untuk Update Fakta Lainnya:

0 Response to "Pengaruh Revolusi Industri terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia"

Post a Comment

Tolong Jangan Melakukan SPAM ya.
KOMENTARLAH SESUAI ARTIKEL DI ATAS :)

TERIMA KASIH
ADMIN
INDRA SAPUTRA